“Na, kayaknya dia itu suka deh sama kamu.”
“Kayaknya ... kayaknya ... perasaan itu enggak bisa diukur pakai kata
kayaknya, Di.”
“Lah, bener. Lihat aja waktu ketemu kamu tadi gayanya salting gitu.”
“Salting? Salah tingkah
maksudnya?”
Di mengangguk antusias.
“Kamu itu ada-ada aja, Di. Aku itu enggak mau ke-pede-an ya.
Mungkin, karena kami lama enggak ketemu ... itu aja.”
“Ih ... Na, kalau enggak suka, kenapa dia selalu baik sama kamu?” Di gadis
bermata cokelat itu masih saja bersikeras mempertahankan pendapatnya.
Kuhentikan sejenak kegiatan membereskan piring-piring bersama Di, kutatap
gadis itu lekat-lekat sembari memberikan senyuman termanisku. “Di, sayang ...
dia itu memang orang baik, perhatian. Tapi ... baiknya enggak cuma sama aku aja,
dia baik ke semua orang.”
“Tapi, Na ...,” Bibir Di monyong beberapa senti, dia seakan enggak setuju
dengan pernyataanku.
“Sudah ya .... Ini kok jadi kamu sih yang baper. Aku aja biasa, lebih tepatnya udah terbiasa sih, hehe.
Pokoknya jadi perempuan itu jangan suka bawa perasaan, Di. Nanti kalau yang
diharapkan enggak sesuai sama kenyataan, malah kecewa lo. InsyaAllah kalau
jodoh, pasti juga bertamu.”
“Iya ... iya yang terbiasa ... terbiasa cuek maksudnya? Pokoknya aku yakin ‘ainul yakin, kalau dia itu suka sama
kamu Na. Aku dukung seribu persen lo.”
Aku hanya geleng-geleng tersenyum melihat tingkah Di. Di lalu pergi
meninggalkanku di dapur. Aku masih merapikan beberapa makanan yang masih
tersisa.
Sebenarnya pembicaraan dengan Di ini membuatku sedikit terusik. Kakak
memang sering menghubungiku akhir-akhir ini. Kakak adalah seorang laki-laki
yang menjadi bahan pembicaraan aku dan Di barusan. Kakak ... begitulah aku, Di
dan teman-teman lain memanggilnya. Dulu kami pernah berkecimpung dalam satu
organisasi yang sama di kampus. Kemudian setelah lulus, Kakak diterima kerja di
luar pulau yang jauh di sana. Tidak hanya jarak, tapi kesibukan yang berbeda
juga membuat kami semakin jarang berkomunikasi.
Hari ini Kakak mengejutkanku. Kakak tiba-tiba datang di acara syukuran rumah
baru Di dan keluarganya. Ya memang, Di mengundang beberapa teman kampus yang
cukup dekat dengan kami. Tapi aku tak menyangka sama sekali Kakak bisa hadir.
Hm .. aku dan Di sudah seperti saudara, kami biasa saling menginap. Aku sering bercerita
banyak hal yang tidak bisa kuceritakan pada banyak orang, selain Di dan
keluarganya. Dan untuk acara syukuran begini, aku pasti akan membantu dan
datang menginap lebih awal di rumah Di. Untuk urusan memasak, Di lebih
mengandalkanku untuk membantu mamanya.
“Ehem, Na ....” suara laki-laki mengagetkanku. Aku menoleh ke arah sumber suara.
“I .. iya Kak.” Suasana tiba-tiba menjadi canggung. “Emm ... mau
nambah makannya? Ini nasinya masih banyak. Tapi lauknya tinggal tahu tempe.
He-he.” Aku berusaha mencairkan kekikukan di antara kami.
Kami benar-benar salah tingkah saat ini.
“Alina apa kabar?”
Dari menanyakan kabar, kami terlibat beberapa pembicaraan kecil di dapur.
Aku masih berdiri di dekat meja makan, sementara Kakak berdiri di dekat pintu
sembari memegang piring bekas ia makan.
“Na, aku aja yang nyuci piring.
Kamu ke depan aja.” suara Di datang dari ruang tengah, “Eh lagi sama Kakak toh?”
nada bicara Di terdengar semringah sambil cengar-cengir.
“Eh ini, mau nambah ... iya kan Kak?” aku gelagapan sambil menambahkan nasi
ke piring Kakak yang masih dipegangnya.”
“Eh iya,” Kakak tersenyum kepada kami, “Masakan mamamu enak banget Di,
nagihin. Ini tempe gorengnya enak banget.” puji Kakak.
“Iya dong, siapa dulu yang bantuin. Si manis, Alina, sahabatku tercinta.
Kalau aku bisanya bantu cuci piring aja, haha. Na masakannya enak banget lo
Kak. Sudah siap jadi istri dan ibu rumah tangga yang baik.”
“Eh Di, ini piring kotornya, buruan dicuci. Heeh, aku mau bantu Di nyuci piring dulu ya Kak.” sambil nyengir kepada Kakak, aku menggandeng tangan Di untuk
pergi.
Kakak tertawa kecil melihat kelakuan kami.
Sampai pada akhir acara, semua berjalan lancar. Semua telah kembali ke
rumah masing-masing. Seperti biasa, hari ini aku menginap di rumah Di. Di dan aku
adalah dua pribadi dengan watak yang berbeda. Tapi kami saling melengkapi.
Aku seorang yang pendiam, hingga akhirnya aku bertemu dengan Di. Di gadis
periang yang mengajariku bagaimana caranya bahagia. Bagaimana caranya agar
tetap bisa tersenyum. Di, sahabat yang kumiliki sejak di sekolah menengah atas
kemudian kami kuliah di kampus yang sama. Malam itu, aku mencoba bercerita
kepada Di.
“Di, ada seseorang yang datang padaku.”
“Laki-laki?”
“Iya ... dia bilang suka sama aku, bilang cinta padaku.”
“Lalu?”
Aku diam sejenak dan menatap gadis bermata cokelat di depanku.
“Dia tiba-tiba datang padaku, lalu mengucapkan semua itu di depanku. Aku
takut. Tanganku gemetar. Kukatakan terima kasih padanya.”
“Sudah?”
“Iya, sudah.”
Di hanya menghela napas panjang, sepertinya dia tidak kaget dengan
jawabanku. Seolah aku bisa membaca raut mukanya.
“Di, kalau memang dia suka sama aku, cinta sama aku. Dia harusnya datang ke
rumah, nemuin Bapakku. Laki-laki itu harus tegas kan Di, kalau suka ya lamar.”
Aku mencoba membela diri.
“Tuhan, apakah temanku ini robot? Kaku sekali jadi manusia.”
“Aku pernah merasa mengalami hal seperti ini, tapi ujung-ujungnya kamu tahu sendiri kan? Janji untuk Alina itu tidak pernah tertunaikan.”
“Alina ...,” Di meletakkan kedua tangannya di pundakku. “Semua hal itu itu
butuh proses. Kamu berhak bahagia. Kamu harus move on. Mau sampai kapan kayak gini terus? Ikhlasin ya, dia yang
di atas sana pasti juga ingin kamu bahagia. Yaudah sekarang kita istirahat dulu
aja ya, ceritanya dilanjut besok. Biar kamu lebih fresh besok menerima lembaran baru. Cieee ....”
Sebuah pesan mendarat di ponselku.
“Na, kamu sudah dikhitbah?”
Empat kata itu kubaca lagi dan lagi. Takut-takut aku salah baca. Berapa
kali kubaca, isinya tetap sama. Setelah berpikir beberapa menit, akhirnya
kubalas pesan itu.
“Belum.”
Tak ada balasan lagi.
Posting Komentar