Magnet untuk Selalu Kembali

 

Oleh: Ihdina Sabili

https://pixabay.com/id/photos/kompas-peta-arah-derajat-utara-2946959/
Ilustrasi: Pixabay.com

Sepanjang hidupku hingga detik ini, aku dilimpahi sekian banyak cinta dan kasih sayang. Mulai dari kedua orang tua sejak dalam kandungan. Mulai dari dalam buaian hingga kini sudah bisa keluyuran. Sudah terpatri dalam ingatan, jarang sekali aku memiliki sahabat sejati. Teman dekat yang selalu ada setiap hari. Sejak masih di bangku sekolah dasar, menengah pertama dan ke atas, bahkan hingga kuliah. Meski begitu, aku merasa sangat bahagia. Itu artinya teman-temanku begitu luas. Persahabatanku tak terbatas pada orang-orang tertentu. Aku ingin bisa berteman dengan siapa pun.

Hal ini terasa ketika aku masuk di jenjang perkuliahan. Di bangku kuliah, aku mulai mengenal dunia luar. Aku mulai kenal juga dengan berbagai media sosial yang dapat diakses melalui dunia maya. Bersambut gayung dengan hobi dan kegemaranku sejak belia, membaca buku cerita. Di situlah mereka mempertemukan takdirnya. Aku menemukan teman-teman dengan isi kepala yang mungkin serupa. Sehingga aku bisa sangat nyaman dalam bersosialisasi. Terlebih dapat membantu mengembangkan kemampuan dan kecintaanku pada dunia tulis menulis.

Saat itu tahun 2012, tahun yang sama dengan pertama kalinya masuk dunia perkuliahan. Memang bukan awal mula mendengar nama Forum Lingkar Pena. Namun tahun ini adalah mula kakiku menapak masuk pada sebuah keluarga. Keluarga tanpa hubungan darah, keluarga tanpa seatap rumah, keluarga dengan sejuta cerita. Di sana ada air mata, ada tangis tawa, ada senda gurau, ada sentilan di hati, ada gundahan di kepala. Namun entah karena apa, aku selalu kembali lagi dan lagi.

Hingga kini, terhitung hampir satu dekade kebersamaanku dengannya. Bukan berarti semakin bertambah waktu muncullah kebosanan. Tetapi semakin tambah waktu semakin tak bisa lepas. Seperti ada magnet yang kembali menarik lagi dan lagi. Meski satu per satu dari kami tak bisa bertahan lama, namun pasti ada beberapa nama yang akan terkait lagi dan kembali. Entah sampai kapan. Sejauh ini, yang kumengerti jika membicarakan FLP Surabaya dan keluarga yang ada di dalamnya, adalah mencintai tanpa karena, menyayangi tanpa tetapi.

Percayalah, jika ada permasalahan di rumah, dengan bertemu keluarga ini, hati menjadi terhibur, setidaknya teralihkan untuk sementara. Padahal tak jarang pula di dalam keluarga ini terjadi perselisihan. Mungkin memang ada beberapa waktu saat sepertinya harus menjaga jarak sementara. Untuk sekadar memastikan bahwa bukan keluarga ini yang menyebabkan segala kesuntukan dan kegundahan hati. 

Terima kasih FLP Surabaya, bersamamu, aku menemukan diriku. Terima kasih FLP Surabaya, bersamamu, aku menjadi jati diriku. Terima kasih FLP Surabaya, aku utuh dengan segala lebih kurangku. Tetaplah bersamaku, FLP Surabaya, di dalam hati dan langkahku. Menyongsong masa depan, menyambut hal baru setiap harinya, dan tentunya mempelajari banyak hal tiap detiknya.

Selamat mengulang hari lahir, FLP Surabaya-ku yang tak pernah tua. Keluarga yang tak pernah lekang oleh waktu. Meski ada saja permasalahan terjadi, ketidakcocokan muncul, namun aku tahu, kau bagai magnet yang selalu menarikku kembali.

*Diambil dari Pekan Karya 9 untuk memperingati Milad FLP Surabaya ke-16

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama